PUASA DAN KESEHATAN : Puasa Ramadhan Bukan Sekedar Starvasi

banyak rambu, membuat bingung

 

 

Puasa Ramadhan Bukan Sekedar Starvasi

 dr Widodo Judarwanto SpA

Puasa yang dilakukan oleh kaum muslim saat ramadan mempunyai berbagai aspek dan dimensi. Secara psikososial dan psikobiologis puasa berberkah sehat jasmani, rohani dan sosial. Sehingga sulit untuk dibantah lagi bahwa dalam bidang kesehatan berpuasa sangat bermanfaat.

Saat ini banyak dibahas dan disampaikan kajian ilmiah yang menunjukkan bahwa puasa sebulan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat bagi kesehatan manusia. Tetapi sebaliknya tampaknya belum banyak diulas, apakah secara medis puasa aman atau sebaliknya berbahaya bagi kesehatan ? Meskipun puasa ramadhan adalah salah satu bentuk menghindari makan dan minum dalam jangka waktu tertentu, tetapi ternyata bukan sekedar starvasi (puasa) biasa. Dalam keadaan berpuasa ramadhan kehidupan psikososial justru tidak akan terganggu malahan akan meningkat secara kuantitias dan kualitas.

 

Bukan sekedar starvasi

Para pakar nutrisi dunia mendefinisikan puasa atau starvasi adalah sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Sedangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhugungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam matahari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan dibandingkan starvasi biasa.

Sebagian besar literatur ilmiah kedokteran menyebut puasa dengan istilah starvasi. Hal ini mengakibatkan kerancuan dan mispersepsi diantara kalangan ilmiah kedokteran internasional. Dalam berbagai forum kedokteran modern, beberapa kliisi dan dokter sulit membedakannya. Sehingga sering menganggap bahaya starvasi terhadap puasa Islam juga.  

Rentang waktu seorang muslim menghindari makanan dan minuan sekitar 12-16 jam. Waktu ini sesuai dengan dua rentang masa asimilasi makanan dlam tubuh, yaitu fase penyerapan (absorpsi) selama 3-5 jam dan paska penyerapan(paska absoprsi). Proses asimilasi makanan terdiri dari fase membangun (anabolisme) dan fase menghncurkan (katabolisme). Pada fase anabolisme (bersamaan dengan fase penyerapan) semua unsur makanan digunakan untuk membangun. Sedangkan fase katabolisme (bersamaan dengan paska penyerapan) unsur makanan dihancurkan  melalui proses oksidasi untuk menghasilkan energi dalam bentuk panas, gerak dan cadangan energi.

Dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asama amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan seldan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukp dalam hati karena asupan nutria saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein essensiallainnya seperti albumin, globulin, fibrinogen, faktor pembekuan darah dan protein yang dibutuhkan untuk tranpor makanan ke seluruh tubuh. Pada starvasi jangka panjang hal ini akan mengakibatkan gangguan pembekuan darah, pembengkakan tubuh (edema), penurunan zat antibodi, dan berbagai kekurang vitamin dan mineral lainnya. Hal ini tidak akan terjadi pada puasa ramadhan. Setelah makan sahur produksi urine dariamonia yang terbentuk dari asam amino akan mengalami peningkatan. Sehingga tidak akan terjadi gangguan keseimbangan nitrogen saat siang hari.

Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang.jadi penumpukan lemak dalam jumlah besar sebagaimana yang terjadi dalam starvasi, sehingga tidak beresiko terjadi sirosis hati. Dalam keadaan puasa islam fungsi hati masih aktif baik bereda pada starvasi biasa. Berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

            Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa saat Ramadan tidak mempengaruhi secara drastis metabolism lemak, karbohidrat dan protein.  Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa.

Dalam penelitian saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia. Tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah, rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH dan MCHC) dibandikan dengan orang yang tidak berpuasa.

Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsuktasi dengan dokte lebih cermat. Diantaranya adalah penderita diabet dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagalginjal, jantung dan tipe diabet tertentu.

Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, menyusui, dan kelompok tidak hamil dan menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormone  tiroksin.

Dalam berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (T$),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormone perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.

Sedangkan pada penelitian hormon wanita  menunjukkan pada keadaan puasa tidak terjadi gangguan hormon virgisteron. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

Selama ini banyak orang mengkambinghitamkan puasa ramadhan sebagai penyebab gangguan stamina tubuh. Ternyata dalam penelitian di Amerika menunjukkan bahwa puasa ramdhan menunjukkan peningktan statistic tingkat stamina tubuh, penampilan dan kerja fungsi otot dan jantung meski tubuh telah mencurahkan tenaga selama puasa. Selain itu tingkat perasaan lelahpun terlihat mengalami pemulihan dan perbaikan.

 

Kehidupan psikososial

Demikian pula bila puasa dikaitkan dengan kehidupan psikososial manusia. Dalam keadaan starvasi seringkali kehidupan sosial akan terganggu seperti produktifitas menurun, kestabilan emosi terganggu, aktifitas berkurang dan komunikasi sosial jadi terhambat. Tetapi dalam puasa ramadhan malah terjadi  sebaliknya. Saat melaksanakan ibadah puasa ternyata justru akan menigkatkan kualitas dan kuantitas kehidupan psikososial.

Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya.

Peningkatan aktifitas ibadah di bulan puasa akan meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Pada awal puasa saja, adalah suatu kelaziman bagi sebagian besar warga muslim untuk menyampaikan kabar, salam atau selamat menunaikan ibadah puasa baik secara langsung atau SMS pada berbagai teman dan kawan yang sudah lama tidak berkomunikasi. Saat memasuki ibadah puasapun justru komunikasi dengan lingkungan dan keluarga akan semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan aktifitas sholat berjamaah atau sholat tarawih akan sering membuat komunikasi dengan saudara atau tetangga akan meningkat.

Meski kadang aktifitas tertentu dari kerja sehari-hari sedikit berkurang, secara tidak disadari aktifitas lainya meningkat. Aktifitas tersebut berupa aktifitas keagamaan dan budaya setempat. Misalnya, saling berkirim makanan atau sedekah di antara tetangga, saudara atau orang lain. Aktifitas lainnya adalah melakukan buka puasa bersama, menyediakan  takjil masjid, memperindah dan membersihkan masjid, tadarus bersama, melakukan kunjungan ke panti asuhan, ziarah makam dan berbagai aktfitas rutin ramadhan lainnya.

Berbagai peningkatan aktifitas dan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia. Keadaan ini akan sangat berpengaruh dengan peningkatan kondisi kesehatan seseorang.

Secara ilmiah ternyata terungkap puasa ramadhan bukan sekedar starvasi biasa. Sehingga dalam sebagian besar aktifitas sehari-hari seharusnya tidak mempengaruhi produktifitas dan kualitas kerja sehari-hari. Tentunya hal itu dapat dilakukan pengecualian dalam kerja yang sangat berat dan tidak biasa.

 

Supported  by
CLINIC FOR CHILDREN

Yudhasmara Foundation

JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010

phone : 62(021) 70081995 – 5703646

http://childrenclinic.wordpress.com/

 

 

Clinical and Editor in Chief :

WIDODO JUDARWANTO

email : judarwanto@gmail.com

 

 

Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s