Bayi kuning, normal ataukah berbahayakah ?

imageIkterus neonatorum (bayi baru lahir berwarna kuning) adalah kondisi munculnya warna kuning di kulit dan selaput mata pada bayi baru lahir karena adanya bilirubin (pigmen empedu) pada kulit dan selaput mata sebagai akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia). Keadaan kuning pada bayi lahir ini dalam istilah umum sering disebut jaundice.

Kata jaundice berasal dari bahasa Perancis, dari kata jaune yang berarti kuning. Sakit kuning (jaundice) yang juga dikenal dengan ikterus adalah perubahan warna kulit, sklera mata atau jaringan lainnya (membran mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh bilirubin yang meningkat kadarnya dalam sirkulasi darah

Bayi kuning atau jaundice adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah tinggi dan terjadi pada minggu pertama kehidupan sang bayi. Kadar bilirubin dalam darah bersifat toksik bagi perkembangan system saraf pusat bayi, hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan saraf yang tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karena itu, butuh penanganan dokter dengan segera dan tepat. Hampir 60%-70%  bayi yang baru lahir akan terlihat kuning pada minggu pertama setelah mereka lahir. Sekitar 5-10% dari mereka membutuhkan penanganan khusus karena kadar bilirubinnya yang secara signifikan tinggi, sehingga dibutuhkan fototerapi. Pada kebanyakan kasus kondisi tersebut tidak berbahaya sehingga tidak dibutuhkan penanganan khusus.

Kuning pada bayi adalah sesuatu masalah yang sering terjadi pada bayi baru lahir. Kuning pada bayi baru lahir bayi terkadang sulit untuk mendeteksi atau menilai secara benar. Secara umum penilaian kunging bisa dilihat pada warna  putih mata dan kulit yang bewarna kuning-kekuningan. Warna kuning-kekuningan ini dapat dilihat dengan lebih jelas apabila kulit bayi ditekan lembut, biasnya tampak  kelihatan kekuningan.
Warna kekuningan pada bayi baru lahir adakalanya merupakan kejadian alamiah (fisologis), adakalanya menggambarkan suatu penyakit (patologis).
Bayi berwarna kekuningan yang alamiah (fisiologis) atau bukan karena penyakit tertentu dapat terjadi pada 25% hingga 50% bayi baru lahir cukup bulan (masa kehamilan yang cukup), dan persentasenya lebih tinggi pada bayi prematur. Referensi lain menyebutkan angka kejadian bayi kuning alamiah (fisiologis) mencapai 80%.

Disebut alamiah (fisiologis) jika warna kekuningan muncul pada hari kedua atau keempat setelah kelahiran, dan berangsur menghilang (paling lama) setelah 10 hingga 14 hari. Ini terjadi karena fungsi hati belum sempurna (matang) dalam memproses sel darah merah.
Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah tidak melebihi batas yang membahayakan (ditetapkan).
Ada beberapa batasan warna kekuningan pada bayi baru lahir untuk menilai proses alamiah (fisiologis), maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit (patologis), agar kita lebih mudah mengenalinya.

Secara garis besar, batasan kekuningan bayi baru kahir karena proses alamiah (fisiologis) adalah sebagai berikut:

  • Warna kekuningan nampak pada hari kedua sampai hari keempat.
  • Secara kasat mata, bayi nampak sehat
  • Warna kuning berangsur hilang setelah 10-14 hari.
  • Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah kurang dari 12 mg%.

Adapun warna kekuningan pada bayi baru lahir yang menggambarkan suatu penyakit (patologis), antara lain:

  • Warna kekuningan nampak pada bayi sebelum umur 36 jam.
  • Warna kekuningan cepat menyebar kesekujur tubuh bayi.
  • Warna kekuningan lebih lama menghilang, biasanya lebih dari 2 minggu.
  • Adakalanya disertai dengan kulit memucat (anemia).
  • Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah lebih dari 12 mg% pada bayi cukup bulan dan lebih dari 10 mg% pada bayi prematur.

Jika ada tanda-tanda seperti di atas (patologis), bayi kurang aktif, misalnya kurang menyusu, maka sebaiknya segera periksa ke dokter terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.

Disamping itu, beberapa kondisi yang dapat beresiko terhadap bayi, antara lain:

  • Infeksi yang berat.
  • Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase(G 6 PD).
  • Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin
  • Beberapa penyakit karena genetik (penyakit bawaan atau keturunan).

MEKANISME TERJADINYA PENYAKIT
Bagaimana terjadi kuning pada bayi , baik pada proses alamiah (fisiologis) maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit
Pada dasarnya warna kekuningan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain:

  • Proses pemecahan sel darah merah (eritrosit) yang berlebihan.
  • Gangguan proses transportasi pigmen empedu (bilirubin).
  • Gangguan proses penggabungan (konjugasi) pigmen empedu (bilirubin) dengan protein.
  • Gangguan proses pengeluaran pigmen empedu (bilirubin) bersama air.

Hal; lain yang berpengaruh adalah pembuangan sel darah merah yang sudah tua atau rusak dari aliran darah dilakukan oleh empedu. Selama proses tersebut berlangsung, hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen) akan dipecah menjadi bilirubin. Bilirubin kemudian dibawa ke dalam hati dan dibuang ke dalam usus sebagai bagian dari empedu. Gangguan dalam pembuangan mengakibatkan penumpukan bilirubin dalam aliran darah yang menyebabkan pigmentasi kuning pada plasma darah yang menimbulkan perubahan warna pada jaringan yang memperoleh banyak aliran darah tersebut. Kadar bilirubin akan menumpuk kalau produksinya dari heme melampaui metabolisme dan ekskresinya. Ketidakseimbangan antara produksi dan klirens dapat terjadi akibat pelepasan perkursor bilirubin secara berlebihan ke dalam aliran darah atau akibatproses fisiologi yang mengganggu ambilan (uptake) hepar, metabolisme ataupun ekskresi metabolit ini. Gangguan pada proses di atas (dan proses lain yang lebih rumit) menyebabkan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah meningkat, akibatnya kulit bayi nampak kekuningan.

  • Jaundice Fisiologi. Keadaan ini disebabkan oleh ketidakmampuan bayi dalam menangani terjadinya peningkatan produksi bilirubin, karena fungsi-fungsi organnya yang belum sempurna. Bayi akan terlihat kuning pada kurun waktu 24-72 jam setelah lahir. Normalnya kadar bilirubin dalam darah pada bayi yang lahir cukup waktu akan mencapai puncaknya di level 6-8 mg/dL pada hari ketiga lalu akan turun di hari berikutnya. Sedangkan bayi dikatakan mengalami jaundice fisiologi jika peningkatan kadar bilirubin mencapai 12 mg /dL, dan tidak lebih dari 15 mg/dL. Setelah hari ke-14 bayi sudah tidak tampak kuning lagi.Dalam keadaan jaundice fisiologi sebenarnya tidak dibutuhkan perawatan, hanya saja peran sang ibu sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, ibu harus senantiasa menyusui bayinya. Bayi yang kuning harus disusui secara eksklusif, tanpa tambahan asupan yang lain, baik itu air atupun dextrose. Pada dasarnya jaundice fisiologi tidak berbahaya, pemberian ASI akan sangat membantu bayi dalam menangani tingginya kadar bilirubin dalam tubuhnya. Tetapi perlu diingat, jika kuningnya sudah menyebar sampai bagian kaki, maka bayi harus segera dibawa lagi ke rumah sakit, karena hal itu pertanda bahwa kadar bilirubin sudah semakin tinggi dan segera butuh penanganan tim medis. Saya mengalami hal tersebut, bayi saya harus mendapat fototerapi selama 2 hari karena kadar bilirubinnya yang meningkat lagi menjadi 15 mg/dL setelah 2 hari di rumah.
     
  • Jaundice Patologi. Pada keadaan ini kadar bilirubin sudah melebihi 17 mg/dL, sehingga harus segera diobservasi penyebabnya dan juga dibutuhkan penanganan khusus, seperti fototerapi. Jika bayi terlihat kuning dalam kurun waktu 24 jam, peningkatan kadar bilirubin melebihi batas normal (5 mg/dL/hari), dan bayi masih terlihat kuning bahkan setelah 3 minggu usia kelahirannya, maka hal tersebut sudah dikategorikan sebagai jaundice patologi. Tidak hanya itu, feses bayi yang seperti tanah liat dan urine-nya yang berwarna gelap sehingga pakaian bayi menjadi kuning adalah tanda lain dari jaundice patologi. Pada jaundice patologi juga akan didapati kadar bilirubin yang lebih dari 2 mg/dL ketika sampel darah diambil kapan saja / direct bilirubin (tidak ada interval waktu).Semua bayi yang mendapat perawatan fototerapi harus melalui serangkaian pengujian, seperti tes golongan darah dan Coombs’ test (uji deteksi antibodi dan protein komplemen pada penyakit hemolitik pada bayi yang baru lahir, untuk lebih lengkapnya lihat di Wikipedia); perhitungan darah komplit dan smear for hemolysis serta morfologi sel darah merah; perhitungan retikulosit dan estimasi enzim G6PD. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui penyebab jaundice pada si kecil. Pengulangan pengukuran kadar bilirubin dalam darah, biasanya pada interval 24 jam, harus dilakukan selama bayi difototerapi.
  • Hemolytic Jaundice. Ada beberapa tanda dari hemolitik jaundice, yaitu jaundice muncul dalam waktu 24 jam, bayi tampak pucat, terjadinya hepato-splenomegali, meningkatnya jumlah retikulosit (>8%), peningkatan bilirubin yang cepat (>5 mg/dL dalam waktu 24 jam atau > 0,5 mg/dL/jam), serta adanya riwayat jaundice pada keluarganya. Hemolytic jaundice disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya seperti penyakit hemolitik rhesus (Rh), ABO inkompatibiliti, serta defisiensi enzim G6PD.Bayi yang lahir dari ibu dengan Rh-negatif dan ayah Rh-positif harus dilakukan identifikasi Rh dan uji Direct Coombs’. Begitu juga dengan bayi yang lahir dari ibu dengan golongan darah O dan Rh-positif harus terus dimonitor dan dilakukan serangkaian pengujian, seperti test golongan darah dan uji direct antibody. Hemolitik jaundice akibat ABO inkompatibiliti biasanya muncul dalam waktu 24 jam pertama (cirri yang sama dengan jaundice patologi). Penanganan hemolitik jaundice akibat defisiensi G6PD serupa dengan hemolitik jaundice akibat ABO inkompatibiliti. Pemeriksaan defisiensi G6PD harus ditegakkan pada bayi yang diberikan terapi cahaya (fototerapi), baik itu pada bayi yang lahirnya cukup waktu (full-term) ataupun yang hampir cukup waktu (near-term).
  • Menyusui dan jaundice. Jaundice pun juga bisa terjadi pada bayi yang disusui oleh ibunya. Jaundice ini biasanya muncul antara 24-72 jam dengan puncaknya pada hari ke-5 sampai hari ke-15 dan akan hilang pada minggu ketiga. Studi yang dilakukan Schneider menunjukkan bahwa 13% bayi yang menyusui memiliki kadar bilirubin puncak sebesar 12 mg/dL atau lebih tinggi 4% jika dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula. Hal tersebut dapat terjadi bukan karena kandungan zat di dalam ASI, tetapi lebih karena pola menyusui yang belum optimal. Frekuensi menyusui yang kurang dapat menyebabkan munculnya jaundice fisiologi. Oleh karena itu, ibu harus selalu senantiasa berusaha untuk menyusui bayinya, meskipun terkadang pada awal-awal kelahiran ASI ibu belum keluar. Itulah sebabnya dukungan suami mutlak diperlukan mengingat perannya yang tidak sedikit.
  • Breast Milk jaundice. Sekitar 2-4% bayi yang secara eksklusif disusui oleh sang ibu memiliki jaundice dengan kadar bilirubin lebih dari 10 mg/dL pada minggu ketiga. Jaundice yang tetap ada setelah 3 minggu pertama kehidupan seorang bayi disebut prolonged jaundice (jaundice diperpanjang).  Seiring dengan waktu kadar bilirubin akan berkurang. Tetapi jika si kecil semakin kuning (sudah sampai ke kaki) atau kadar bilirubin sudah melebihi 20 mg/dL segera hubungi dokter.

PENANGANAN
Pada bayi baru lahir dengan warna kekuningan karena proses alami (fisiologis), tidak berbahaya dan tidak diperlukan pengobatan khusus, kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Prinsip pengobatan warna kekuningan pada bayi baru lahir adalah menghilangkan penyebabnya.

  • Terapi Sinar (fototerapi). Fototerapi dilakukan dengan cara meletakkan bayi yang hanya mengenakan popok (untuk menutupi daerah genital) dan matanya ditutup di bawah lampu yang memancarkan spektrum cahaya hijau-biru dengan panjang gelombang 450-460 nm. Selama fototerapi bayi harus disusui dan posisi tidurnya diganti setiap 2 jam. Pada terapi cahaya ini bilirubin dikonversi menjadi senyawa yang larut air untuk kemudian diekskresi, oleh karena itu harus senantiasa disusui (baik itu langsung ataupun tidak langsung). Keuntungan dari fototerapi ini adalah non-invasiv (tidak merusak), efektif, relative tidak mahal, dan mudah dilaksanakan. Terapi sinar dilakukan selama 24 jam atau setidaknya sampai kadar bilirubin dalam darah kembali ke ambang batas normal. Dengan fototerapi, bilirubin dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan menjadi mudah larut dalam air tanpa harus diubah dulu oleh organ hati. Terapi sinar juga berupaya menjaga kadar bilirubin agar tak terus meningkat sehingga menimbulkan risiko yang lebih fatal.  Sinar yang digunakan pada fototerapi berasal dari sejenis lampu neon dengan panjang gelombang tertentu. Lampu yang digunakan sekitar 12 buah dan disusun secara paralel. Di bagian bawah lampu ada sebuah kaca yang disebut flexy glass yang berfungsi meningkatkan energi sinar sehingga intensitasnya lebih efektif. Sinar yang muncul dari lampu tersebut kemudian diarahkan pada tubuh bayi. Seluruh pakaiannya dilepas, kecuali mata dan alat kelamin harus ditutup dengan menggunakan kain kasa. Tujuannya untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari lampu-lampu tersebut. Seperti diketahui, pertumbuhan mata bayi belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan merusak bagian retinanya. Begitu pula alat kelaminnya, agar kelak tak terjadi risiko terhadap organ reproduksi itu, seperti kemandulan. Pada saat dilakukan fototerapi, posisi tubuh bayi akan diubah-ubah; telentang lalu telungkup agar penyinaran berlangsung merata. Dokter akan terus mengontrol apakah kadar bilirubinnya sudah kembali normal atau belum. Jika sudah turun dan berada di bawah ambang batas bahaya, maka terapi bisa dihentikan. Rata-rata dalam jangka waktu dua hari si bayi sudah boleh dibawa pulang. Meski relatif efektif, tetaplah waspada terhadap dampak fototerapi. Ada kecenderungan bayi yang menjalani proses terapi sinar mengalami dehidrasi karena malas minum. Sementara, proses pemecahan bilirubin justru akan meningkatkan pengeluarkan cairan empedu ke organ usus. Alhasil, gerakan peristaltik usus meningkat dan menyebabkan diare. Memang tak semua bayi akan mengalaminya, hanya pada kasus tertentu saja. Yang pasti, untuk menghindari terjadinya dehidrasi dan diare, orang tua mesti tetap memberikan ASI pada si kecil.
  • Terapi Transfusi. Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin terus meningkat hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan terapi transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan kerusakan sel saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang harus diwaspadai karena anak bisa mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya keterbelakangan mental, cerebral palsy, gangguan motorik dan bicara, serta gangguan penglihatan dan pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah teracuni akan dibuang dan ditukar dengan darah lain. Proses tukar darah akan dilakukan bertahap. Bila dengan sekali tukar darah, kadar bilirubin sudah menunjukkan angka yang menggembirakan, maka terapi transfusi bisa berhenti. Tapi bila masih tinggi maka perlu dilakukan proses tranfusi kembali. Efek samping yang bisa muncul adalah masuknya kuman penyakit yang bersumber dari darah yang dimasukkan ke dalam tubuh bayi. Meski begitu, terapi ini terbilang efektif untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi.
  • Terapi Obat-obatan.  Terapi lainnya adalah dengan obat-obatan. Misalnya, obat phenobarbital atau luminal untuk meningkatkan pengikatan bilirubin di sel-sel hati sehingga bilirubin yang sifatnya indirect berubah menjadi direct. Ada juga obat-obatan yang mengandung plasma atau albumin yang berguna untuk mengurangi timbunan bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hati. Biasanya terapi ini dilakukan bersamaan dengan terapi lain, seperti fototerapi. Jika sudah tampak perbaikan maka terapi obat-obatan ini dikurangi bahkan dihentikan. Efek sampingnya adalah mengantuk. . Akibatnya, bayi jadi banyak tidur dan kurang minum ASI sehingga dikhawatirkan terjadi kekurangan kadar gula dalam darah yang justru memicu peningkatan bilirubin. Disamping itu manfaat atau efek dari pemberian obat biasanya terjadi setelah 3 hari pemberian obat. Sehingga, terapi obat-obatan bukan menjadi pilihan utama untuk menangani hiperbilirubin karena biasanya dengan fototerapi si kecil sudah bisa ditangani.
  • Menyusui Bayi dengan ASI.  Bilirubin juga dapat pecah jika bayi banyak mengeluarkan feses dan urin. Untuk itu bayi harus mendapatkan cukup ASI. Seperti diketahui, ASI memiliki zat-zat terbaik bagi bayi yang dapat memperlancar buang air besar dan kecilnya. Akan tetapi, pemberian ASI juga harus di bawah pengawasan dokter karena pada beberapa kasus, ASI justru meningkatkan kadar bilirubin bayi (breast milk jaundice). Di dalam ASI terdapat hormon pregnandiol  yang dapat mempengaruhi kadar bilirubinnya.

Meski demikian dalam keadaan bilirubin yang tidak terlalu tinggi penghentian ASI tidak direkomendasikan.

  • Terapi Sinar Matahari  Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan. Biasanya dianjurkan setelah bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya, bayi dijemur selama setengah jam dengan posisi yang berbeda-beda. Seperempat jam dalam keadaan telentang, misalnya, seperempat jam kemudian telungkup. Lakukan antara jam 7.00 sampai 9.00. Inilah waktu dimana sinar surya efektif mengurangi kadar bilirubin. Di bawah jam tujuh, sinar ultraviolet belum cukup efektif, sedangkan di atas jam sembilan kekuatannya sudah terlalu tinggi sehingga akan merusak kulit. Bila pagi hari dalam keadaan mendung sinar matahari sore atau akhir matahari mungkin masih dianggap aman, sekitar jam 16.00 s/d 17.00. Hindari posisi yang membuat bayi melihat langsung ke matahari karena dapat merusak matanya. Perhatikan pula situasi di sekeliling, keadaan udara harus bersih.
    Apapun penyebab kuning, sebaiknya jangan diremehkan . Bila keadaan semakin tidak membaik sebaiknya konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak.
    Meski disebutkan bahwa bayi kuning sebagian besar diantaranya karena proses alami (fisiologis) dan tidak perlu pengobatan, seyogyanya para orang tua tetap waspada, mengingat bayi masih dalam proses tumbuh kembang. Karenanya, konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak adalah langkah penting yang jangan ditunda.

MITOS ATAU OPINI YANG BELUM TENTU BENAR :

  • KUNING DISEBABKAN KARENA KURANG MINUM. Minum yang kurang bukanlah penyebab kuning pada bayi baru lahir, Tetapi pada bayi baru lahir dengan kuning yangb agak tinggi biasanya disertai oleh minum sus yang kurang atau malas minum.
  • BILA DIBERI ASI YANG BANYAK KUNING AKAN BERKURANG. Penurunan atau pengobatan kuning pada bayi baru lahir yang paling utama adalah penyinaran. Minum yang banyak atau pemberian ASI bukanlah upaya untuk penurunan kuning pada bayi baru lahir.
  • BILA KUNING YANG TINGGI CUKUP DIJEMUR NANTI AKAN MEMBAIK SENDIRI. Dalam keadaan kuning yang tidak tinggi, memang peningkatan kuning saat minggu pertama mungkin cukup dijemur di sinar martahari. Tetapi, bila dalam keadaan kuning yang tinggi sinar matahari tidak banyak bermanfaat.

Kode ICD.10 (International Classification of Diseases) :
P58-59
: Neonatal jaundice

BERBAGAI KATAREISTIK PENYEBAB KUNING PADA BAYI BARU LAHIR

Fisiologis jaundice Jaundice yang berhubungan dengan Breast feeding Jaundice Breast milk Hemolitik desease

Penyebab

Fungsi hepatik immatur ditambah peningkatan bilirubin dari hemolisis RBC Intake susu yang jelek berhubungan dengan konsumsi kalori yang sedikit pada bayi sebelum susu ibu keluar Faktor-faktor pada susu ibu yang berubah, bilirubin menjadi bentuk lemak yang mana direabsorbsi usus Incompatibilitas antigen yang menyebabkan hemolisis sebagian dari RBC.Hati tidak mampu untuk mengkonjugasikan dan mengeksresikan kelebihan bilirubin dari hemolisis

Onset

Setelah 24 jam pertama (bayi prematur, bayi lahir lama) 2 – 3 hari 4 – 5 hari Selama 24 jam pertama
Puncak 72 jam 2 – 3 hari 10 – 15 hari Bervariasi
Durasi Berkurang setelah 5-7 hari Sampai seminggu
Terapi Fototherapi jika bilirubin meningkat dengan cepat Berikan ASI sesering mungkin, berikan suplemen kalori, fototherapi untuk kadar bilirubin 18 – 20 mg/dl Hentikan ASI selama 24 jam untuk mendeterminasi sebab, jika kadar bilirubin menurun pemberian ASI dapat diulangi.Dapat dilakukan fototherapi tanpa menghentikan pemberian ASI Posnatal: fototherapi, bila perlu transfusi tukarPrenatal:

Transfusi (fetus)

Mencegah sensitisasi dari RH negatif ibu dengan RhoGAM

Referensi

  • Maisels MJ, Gifford K. Normal serum bilirubin levels in the newborn and the effect of breast- feeding. Pediatrics. Nov 1986;78(5):837-43. [Medline].
  • Linn S, Schoenbaum SC, Monson RR, Rosner B, Stubblefield PG, Ryan KJ. Epidemiology of neonatal hyperbilirubinemia. Pediatrics. Apr 1985;75(4):770-4. [Medline]
  • Hansen TW. Therapeutic approaches to neonatal jaundice: an international survey. Clin Pediatr (Phila). Jun 1996;35(6):309-16. [Medline].
  • American Academy of Pediatrics Subcommittee on Hyperbilirubinemia. Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Pediatrics. Jul 2004;114(1):297-316. [Medline][Full Text].
  • [Best Evidence] Newman TB, Liljestrand P, Escobar GJ. Combining clinical risk factors with serum bilirubin levels to predict hyperbilirubinemia in newborns. Arch Pediatr Adolesc Med. Feb 2005;159(2):113-9. [Medline].
  • Bhutani VK, Johnson LH, Keren R. Diagnosis and management of hyperbilirubinemia in the term neonate: for a safer first week. Pediatr Clin North Am. Aug 2004;51(4):843-61, vii. [Medline].
  • Buiter HD, Dijkstra SS, Oude Elferink RF, Bijster P, Woltil HA, Verkade HJ. Neonatal jaundice and stool production in breast- or formula-fed term infants. Eur J Pediatr. May 2008;167(5):501-7. [Medline].
  • Carbonell X, Botet F, Figueras J, Riu-Godo A. Prediction of hyperbilirubinaemia in the healthy term newborn. Acta Paediatr. Feb 2001;90(2):166-70. [Medline].
  • Cremer RJ, Perryman PW. Influence of light on the hyperbilirubinemia of infants. Lancet. 1958;1:1094-7.
  • De Carvalho M, De Carvalho D, Trzmielina S, et al. Intensified phototherapy using daylight fluorescent lamps. Acta Paediatr. Jul 1999;88(7):768-71. [Medline].
  • Dennery PA, Seidman DS, Stevenson DK. Neonatal hyperbilirubinemia. NEJM. 2001;344:581-90. [Medline][Full Text].
  • Gottstein R, Cooke RW. Systematic review of intravenous immunoglobulin in haemolytic disease of the newborn. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. Jan 2003;88(1):F6-10. [Medline][Full Text].
  • Hart C, Cameron R. The importance of irradiance and area in neonatal phototherapy. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2005;90:F437-F440. [Medline][Full Text]..
  • Huang MJ, Kua KE, Teng HC, Tang KS, Weng HW, Huang CS. Risk factors for severe hyperbilirubinemia in neonates. Pediatr Res. Nov 2004;56(5):682-9. [Medline].
  • Ip S, Chung M, Kulig J, et al. An Evidence-Based Review of Important Issues Concerning Neonatal Hyperbilirubinemia. Pediatrics. 2004;114:e130-e153. [Medline][Full Text].
  • Kapitulnik J, Horner-Mibashan R, Blondheim SH, et al. Increase in bilirubin-binding affinity of serum with age of infant. J Pediatr. Mar 1975;86(3):442-5. [Medline].
  • Kaplan M, Bromiker R, Schimmel MS, Algur N, Hammerman C. Evaluation of discharge management in the prediction of hyperbilirubinemia: the Jerusalem experience. J Pediatr. Apr 2007;150(4):412-7. [Medline].
  • Kaplan M, Shchors I, Algur N, Bromiker R, Schimmel MS, Hammerman C. Visual screening versus transcutaneous bilirubinometry for predischarge jaundice assessment. Acta Paediatr. Jun 2008;97(6):759-63. [Medline].
  • Keren R, Bhutani VK, Luan X, Nihtianova S, Cnaan A, Schwartz JS. Identifying newborns at risk of significant hyperbilirubinaemia: a comparison of two recommended approaches. Arch Dis Child. Apr 2005;90(4):415-21. [Medline].
  • Kuzniewicz MW, Escobar GJ, Wi S, Liljestrand P, McCulloch C, Newman TB. Risk factors for severe hyperbilirubinemia among infants with borderline bilirubin levels: a nested case-control study. J Pediatr. Aug 2008;153(2):234-40.
  • Maisels MJ, McDonagh AF. Phototherapy for neonatal jaundice. N Engl J Med. Feb 28 2008;358(9):920-8.
  • Newman TB, Xiong B, Gonzales VM, Escobar GJ. Prediction and prevention of extreme neonatal hyperbilirubinemia in a mature health maintenance organization. Arch Pediatr Adolesc Med. Nov 2000;154(11):1140-7.
  • Nielsen HE, Haase P, Blaabjerg J, et al. Risk factors and sib correlation in physiological neonatal jaundice. Acta Paediatr Scand. May 1987;76(3):504-11.
  • Palmer DC, Drew JH. Jaundice: a 10 year review of 41,000 live born infants. Aust Paediatr J. Jun 1983;19(2):86-9.
  • Smitherman H, Stark AR, Bhutan VK. Early recognition of neonatal hyperbilirubinemia and its emergent management. Semin Fetal Neonatal Med. Jun 2006;11(3):214-24.
  • Sun G, Wu M, Cao J, Du L. Cord blood bilirubin level in relation to bilirubin UDP-glucuronosyltransferase gene missense allele in Chinese neonates. Acta Paediatr. Nov 2007;96(11):1622-5.
  • Tan KL, Lim GC, Boey KW. Efficacy of “high-intensity” blue-light and “standard” daylight phototherapy for non-haemolytic hyperbilirubinaemia. Acta Paediatr. Nov 1992;81(11):870-4.

.

www.klinikanakonline.com

Provided By: KLINIK ANAK ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085101466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 2961425208131592-2012 – 08131592-2013 – 08131592-2012 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com Facebook: http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen *** We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, Klinik Anak Online, Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s