Kualitas komunikasi dokter dengan pasien cukup baik

Featured Image -- 11710Sekitar 80 persen pasien dari empat kota menilai kualitas komunikasi dokter dengan pasien cukup baik. Namun, masih cukup banyak pasien menganggap waktu konsultasi terlalu sedikit. Demikian hasil survei kepuasan pasien terhadap pelayanan medik rumah sakit yang dilakukan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bekerja sama dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Menurut Ketua YLKI Husna Zahir, yang memaparkan hasil survei bersama Tini Hadad dari KKI, survei dilakukan terhadap 654 orang yang sedang atau pernah dirawat di sarana pelayanan kesehatan puskesmas, klinik, rumah sakit pemerintah/swasta di Medan, Mataram, Yogyakarta dan Jakarta.

Seorang pasien di Jakarta, Gusti, menuturkan, dokternya memberikan waktu konsultasi sangat leluasa. Sebaliknya, Robert dari Jakarta mengeluhkan, dokter sangat cepat memeriksa sehingga pasien tidak ada waktu bertanya. Pasien lain mengeluhkan, dipanggil ke ruang praktik sekaligus tiga orang sehingga tidak ada privasi dan tidak nyaman.

Terkait dengan pemberian obat, sebagian besar pasien merasa dokter memberikan obat secara rasional. Namun, sebagian dari mereka menyatakan, dokter tidak menawarkan obat generik.

Secara umum penilaian terhadap pelayanan dokter cukup baik, keluhan pasien perlu menjadi perhatian. Dokter harus lebih proaktif memberi informasi tanpa harus ditanya. Sebaliknya, pasien harus lebih partisipatif dalam proses pengobatan.

Praktik kedokteran yang baik hanya terjadi jika dokter mengutamakan profesionalitas, menjunjung tinggi etika kedokteran dan mengutamakan penderita di atas kepentingan segalanya. Segala hal tersebut dapat tercapai secara optimal bila dokter menjunjung tinggi etika kedokteran, sistem pendidikan kedokteran ideal, sistem pembiayaan, dan sistem kesehatan yang baik.

Komunikasi yang baik oleh dokter terhadap pasien tampaknya harus terus dipertahankan. Meski tingkat kepuasan pasien relatif tinggi, tetapi dilain pihak tentunya masih ada kelemahan dalam berkomunikasi. Berbagai faktor bisa menjadi penyebab. Salah satunya adalah kecilnya rasio jumlah dokter dan pasien, kesibukan dokter merangkap berbagai tugas dan pemahaman tentang pola berobat dari pasien yang kurang benar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s