Tes Kulit pada Pemberian Injeksi Antibiotik Tidak Diperlukan ?

imageTes kulit memberikan bukti sensitisasi terhadap obat tertentu tetapi harus selalu dinterpretasikan sesuai konteks klinis dan tidak digunakan untuk skrining alergi obat. Karena saat ini di Indonesia belum tersedia sediaan metabolit penisilin, maka tes kulit untuk antibiotik tidak direkomendasikan. Jika diperlukan antibiotik secara  parenteral, maka diperlukan perangkat penanganan reaksi anafilaksis

Uji kulit dapat memperkirakan kemungkinan terjadinya alergi obat, tetapi prosedur ini hanya bermanfaat untuk alergen makromolekul, sedangkan untuk obat dengan berat molekul rendah sejauh ini hanya terhadap penisilin (dengan uji alergen benzilpenisiloil polilisin). Tes kulit hanya direkomendasikan untuk antibiotik golongan penisilin, harus menggunakan penisilin dan metabolitnya yang telah terbukti menimbulkan reaksi alergi. Tes kulit terhadap penisilin dengan metabolit determinan mayor dan minor merupakan tes yang paling dipercaya untuk evaluasi IgE-mediated alergi penisilin. Nilai ramal negatif tes kulit terhadap penisilin adalah mendekati 100%, dan nilai ramal prositif adalah antara 40%-100%.

Alergi obat adalah respon abnormal seseorang terhadap bahan obat atau metabolitnya melalui reaksi imunologi yang dikenal sebagai reaksi hipersensitivitas yang terjadi selama atau setelah pemakaian obat. Alergi obat masuk kedalam penggolongan reaksi simpang obat (adverse drug reaction), yang meliputi toksisitas, efek samping, idiosinkrasi, intoleransi dan alergi obat. Toksisitas obat adalah efek obat berhubungan dengan kelebihan dosis obat. Efek samping obat adalah efek obat selain  khasiat utama yang timbul karena sifat farmakologi obat atau interaksi dengan obat lain. Idiosinkrasi adalah reaksi obat yang timbul tidak berhubungan dengan sifat farmakologi obat, terdapat dengan proporsi bervariasi pada populasi dengan penyebab yang tidak diketahui. Intoleransi adalah reaksi terhadap obat bukan karena sifat farmakologi, timbul karena proses non imunologi. Sedangkan alergi obat adalah respon abnormal terhadap obat atau metabolitnya melalui reaksi imunologi.image

Alergi obat seringkali sulit dibedakan dengan reaksi jenis lain terhadap obat seperti toksisitas, efek samping, intoleransi, dan idiosinkrasi. Efek samping obat merupakan reaksi toksik dan reaksi interaksi obat yang timbul karena sifat farmakologik obat. Reaksi idiosinkrasi tidak berhubungan dengan sifat farmakologik obat, dan terdapat dengan proporsi yang bervariasi pada populasi dengan penyebab yang tidak diketahui.

Alergi obat pada anak lebih jarang terjadi dibandingkan dengan orang dewasa, akan tetapi sering menimbulkan masalah karena mirip dengan gejala alergi oleh penyebab lain yang sering terjadi pada anak, misalnya alergi makanan. Angka kejadian pada bayi dan anak jauh lebih rendah daripada dewasa, dan akan meningkat dengan bertambahnya usia. Akan tetapi angka kejadian sesungguhnya sulit diketahui karena manifestasi klinis yang sangat bervariasi, terkadang tidak dikenali, dan mekanisme terjadinya masih belum jelas. Angka kejadian reaksi simpang obat yang dilaporkan di rumah sakit pada umumnya berkisar antara 5- 15% dari seluruh pasien yang berobat jalan serta 25% dari penderita rawat inap, dan 20-30% dari kejadian reaksi simpang obat tersebut merupakan alergi obat. Angka kejadian dalam masyarakat tentu lebih tinggi dan cenderung makin meningkat dengan makin meluasnya pemakaian obat.

Sebagian besar reaksi obat (75-80%) disebabkan oleh efek non imunologi (farmakologi) yang dapat diprediksi. Sebanyak 20-25% disebabkan oleh efek yang tidak dapat diprediksi, baik yang diperantai atau tidak oleh imun. Reaksi imun terjadi pada 5-10% reaksi obat dan merupakan hipersensitivitas obat yang sebenarnya, dengan diperantarai oleh IgE.

REKOMENDASI IKATAN DOKTER ANAK INDONESIA No.: 005/Rek/PP IDAI/VI/2013

Tes Kulit  pada Pemberian Injeksi Antibiotik

  • Tes kulit hanya direkomendasikan untuk antibiotik golongan penisilin, harus menggunakan penisilin dan metabolitnya yang telah terbukti menimbulkan reaksi alergi.
  • Tes kulit terhadap penisilin dengan metabolit determinan mayor dan minor merupakan tes yang paling dipercaya untuk evaluasi IgE-mediated alergi penisilin. Nilai ramal negatif tes kulit terhadap penisilin adalah mendekati 100%, dan nilai ramal prositif adalah antara 40%-100%.
  • Tes kulit memberikan bukti sensitisasi terhadap obat tertentu tetapi harus selalu dinterpretasikan sesuai konteks klinis dan tidak digunakan untuk skrining alergi obat.
  • Berhubung saat ini di Indonesia belum tersedia sediaan metabolit penisilin, maka tes kulit untuk antibiotik tidak direkomendasikan. Jika diperlukan antibiotik secara  parenteral, maka diperlukan perangkat penanganan reaksi anafilaksis.

Referensi :

  • Barbaud A, Goncalo M, Bruynzeel D, Bircher A, Guidelines for performing skin tests with drugs in the investigation of cutaneous adverse drug reactions. Contact dermatitis 2001;45:321–8.
  • Bernstein IL, Li JT, Bernstein DI, Hamilton R, Spector SL, Tan R, dkk. Allergy diagnostic testing: an updated practice parameter. Part 2. Ann Allergy Asthma Immuno.l 2008;100 Supl 3:S66-121.
  • Lee SH, Park HW, Kim SH, dkk. The current practice of skin testing for antibiotics in Korean hospitals. Korean J Intern Med. 2010;25:207–12.
  • Fox S, Park MA. Penicillin skin testing in the evaluation and management of penicillin allergy. Ann Allergy Asthma Immunol. 2011;1;106:1–7.
  • Langley JM, Halperin S. Allergy to antibiotics in children: perception versus reality. Can J Infect Dis. 2002;13:160–3.
  • Macy E, Ho NJ. Adverse reactions associated with therapeutic antibiotic use after penicillin skin testing. Perm J.  2011;15: 31–7.
  • Solensky R, Khan DA. Drug allergy: an updated practice parameter.  Annals of Allergy, Asthma & Immunol. 2010;105: 1-76.
  • Thong BY. Update on the management of antibiotic allergy. Allergy Asthma Immunol Res. 2010;2:77–86.
  • Warrington R, Silviu-Dan F. Drug allergy. Allergy, Asthma & Clinical Immunol. 2011;7 Supl 1:S10. 

www.mediaimunisasi.com

Provided By: MEDIAIMUNISASI.COM Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation “We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085101466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 email : judarwanto@gmail.com Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC Online” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, MEDIA IMUNISASI Information Education Network. All rights reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s