Penanganan dan Pencegahan Otitis Media Akut atau Radang Telinga Tengah Akut

Radang telinga tengah (bahasa Latin: otitis media) adalah peradangan telinga bagian tengah yang biasanya disebabkan oleh penjalaran infeksi dari tenggorok (faringitis) dan sering terjadi pada anak-anak. Pada semua jenis otitis media juga dikeluhkan adanya gangguan dengar (tuli) konduktif. Dari perjalanan klinisnya, radang telinga tengah dibedakan atas akut (mendadak) dan kronis (berproses dalam jangka panjang/lama).

Tindakan yang mengurangi terjadinya otitis media adalah pemberian vaksin pneumococcus dan vaksin influenza, pemberian ASI ekslusif selama 12 bulan pertama setelah kelahiran, dan menghindari merokok. Pemberian antibiotik secara efusi pada umumnya tidak mempercepat pemulihan otitis media.
Penggunaan obat pereda sakit (analgesic) sangat penting untuk penanganan otitis media akut (OMA). Obat tersebut adalah paracetamol (acetaminophen), ibuprofen, obat tetes telinga benzocaine, atau golongan opiat (jika sakit sekali). antibiotik untuk OMA dapat mempercepat penyembuhan, tetapi dapat terjadi adanya efek samping (side effects).[3] Antibiotik seringkali direkomendasikan pada penderita yang parah dan anak-anak di bawah usia 2 tahun. Pada penderita yang lebih ringan, maka pemberian antibiotik dilakukan setelah 2 atau 3 hari tanpa adanya perbaikan kondisi penderita. Antibiotik awal yang dipilih adalah amoxicillin. Pada penderita yang sering terinfeksi, maka penggunaan tympanostomy tubes dapat mengurangi frekuensi serangan

Otitis media adalah infeksi atau inflamasi / peradangan di telinga tengah.

Telinga sendiri terbagi menjadi tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh gendang telinga. Daerah ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di telinga dalam. Selain itu di daerah ini terdapat saluran Eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan bagian atas.

Guna saluran ini adalah:
1. Menjaga keseimbangan tekanan udara di dalam telinga dan menyesuaikannya dengan tekanan udara di dunia luar.
2. Mengalirkan sedikit lendir yang dihasilkan sel-sel yang melapisi telinga tengah ke bagian belakang hidung.
3. Sebagai sawar kuman yang mungkin akan masuk ke dalam telinga tengah

Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.

Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

Otitis Media Akut (Radang Telinga Tengah Akut)
Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun bakteri. Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus ditemukan pada 25% kasus dan kadang menginfeksi telinga tengah bersama bakteri. Bakteri penyebab otitis media tersering adalah Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis. Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik. Hal ini dimungkinkan karena tanpa antibiotik pun saluran Eustachius akan terbuka kembali sehingga bakteri akan tersingkir bersama aliran lendir.
Otitis Media KronikSunting

Otitis media kronik ditandai dengan adanya supuratif (bernanah) yang merupakan lanjutan dari OMA yang mengalami pecah gendang telinga dan tidak menutup setelah 6 minggu atau non supuratif (serosa/gendang telinga utuh).

Pencegahan

Penggunaan antibiotik jangka panjang, telah diketahui tidak menyebabkan kehilangan pendengaran. Penggunaan antibiotik jangka panjang untuk pencegahan justru tidak direkomendasikan, karena berhubungan dengan resistensi bakteri radang telinga tengah.

Vaksinasi pneumococcus yang diberikan pada saat anak-anak mengurangi tingkat keakutan radang telinga bagian tengah dengan 6–7% dan jika diimplementasikan secara meluas akan memberikan keuntungan kesehatan publik yang mencolok. Vaksinasi influenza direkomendasikan dilakukan setahun sekali.

Faktor-faktor resiko seperti musim, alergi dan kehadiran saudara kandung yang lebih tua diketahui menjadi penyebab kekambuhan berulang radang telinga bagian tengah dan keluarnya kopok/cairan kental terus menerus (persistent middle-ear effusions (MEE)). Sejarah kekambuhan berulang, berkenaan dengan paparan asap rokok, ikut komunitas daycare, dan kurangnya pemberian ASI semuanya berhubungan dengan meningkatnya resiko perkembangan, kekambuhan berulang, dan kopok terus menerus. Jadi, berhenti merokok di rumah harus digalakkan, mengikuti daycare harus dihindarkan atau pilihlah daycare dengan sedikit peserta saja, pemberian ASI juga harus digalakkan.

Terdapat sejumlah bukti menyusui pada 12 bulan pertama setelah kelahiran berhubungan dengan berkurangnya jumlah dan lamanya radang telinga bagian tengah. Menggunakan ’empeng’ akan meningkatkan frekuensi terkena radang telinga bagian tengah.

Bukti tidak mendukung suplemen seng berguna untuk mengurangi radang telinga bagian tengah, kecuali pada kasus malnutrisi seperti marasmus.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s