Sepsis Neonatal, Infeksi Berbahaya Pada Bayi Baru Lahir

image

Penanganan Terkini Sepsis Neonatal

Sepsis neonatal merupakan sindrom klinis penyakit sistemik akibat infeksi yang terjadi dalam satu bulan pertama kehidupan. Bakteri, virus, jamur dan protozoa dapat menyebabkan sepsis pada neonatus. Insidensnya berkisar 1 – 8 di antara 1000 kelahiran. hidup dan meningkat menjadi 13-27 per 1000 kelahiran hidup pada bayi dengan berat

Sepsis dibedakan menjadi : berkembang menjadi syok septik
* dengan mortalitas tinggi
* dengan meningitis
* dengan monitor invasif dan berbagai teknik yang digunakan di ruang rawat intensif.

Diagnosis
– Riwayat ibu mengalami infeksi intrauterin, demam dengan kecurigaan infeksi berat atau ketuban pecah dini
– Riwayat persalinan tindakan, penolong persalinan, lingkungan persalinan yang kurang higienis
– Riwayat lahir asfiksia berat, bayi kurang bulan, berat lahir rendah
– Riwayat air ketuban keruh, purulen atau bercampur mekonium
– Riwayat bayi malas minum, penyakitnya cepat memberat
– Riwayat keadaan bayi lunglai, mengantuk aktivitas berkurang atau iritabel/rewel, muntah, perut kembung, tidak sadar, kejang

Pemeriksaan fisis
Keadaan Umum
– Suhu tubuh tidak normal (lebih sering hipotermia)
– Letargi atau lunglai, mengantuk atau aktivitas berkurang
– Malas minum setelah sebelumnya minum dengan baik
– Iritabel atau rewel
– Kondisi memburuk secara cepat dan dramatis
Gastrointestinal
– Muntah, diare, perut kembung, hepatomegali
– Tanda mulai muncul sesudah hari keempat
Kulit
– Perfusi kulit kurang, sianosis, petekie, ruam, sklerema, ikterik.
Kardiopulmonal
– Takipnu, distres respirasi (napas cuping hidung, merintih, retraksi) takikardi, hipotensi.
Neurologis
– Iritabilitas, penurunan kesadaran, kejang, ubun-ubun membonjol, kaku kuduk sesuai dengan meningitis.

Pemeriksaan penunjang
– Pemeriksaan jumlah lekosit dan hitung jenis secara serial untuk menilai perubahan akibat infeksi, adanya lekositosis atau lekopeni, neutropeni, peningkatan rasio netrofil imatur/total (I/T) lebih dari 0,2.
– Peningkatan protein fase akut (C-reactive protein), peningkatan lgM.
– Ditemukan kuman pada pemeriksaan kultur dan pengecatan Gram pada sampel darah, urin dan cairan serebrospinal serta dilakukan uji kepekaan kuman.
– Analisis gas darah: hipoksia, asidosis metabolik, asidosis laktat.
– Pada pemeriksaan cairan serebrospinal ditemukan peningkatan jumlah leukosit terutama PMN, jumlah leukosit >20/mL (umur kurang dari 7 hari) atau >10/mL (umur
lebih 7 hari), peningkatan kadar protein, penurunan kadar glukosa serta ditemukan kuman pada pengecatan Gram. Gambaran ini sesuai dengan meningitis yang sering terjadi pada sepsis awitan lambat.
– Gangguan metabolik hipoglikemi atau hiperglikemi, asidosis metabolik.
– Peningkatan kadar bilirubin.

Radiologis
Foto toraks dilakukan jika ada gejala distres pernapasan. Pada foto toraks dapat ditemukan :
– Pneumonia kongenital berupa konsolidasi bilateral atau efusi pleura.
– Pneumonia karena infeksi intrapartum, berupa infiltrasi dan destruksi jaringan
bronkopulmoner, atelektasis segmental atau lobaris, gambaran retikulogranular difus (seperti penyakit membran hialin) dan efusi pleura.
– Pada pneumonia karena infeksi pascanatal, gambarannya sesuai dengan pola kuman setempat.

Jika ditemukan gejala neurologis, dapat dilakukan CT scan kepala, dapat ditemukan obstruksi aliran cairan serebrospinal, infark atau abses. Pada ultrasonografi dapat ditemukan ventrikulitis.
Pemeriksaan lain sesuai penyakit yang menyertai.

Penanganan

Dugaan sepsis
Pada dugaan sepsis pengobatan ditujukan pada temuan khusus (misalnya kejang) serta dilakukan pemantauan.
Kecurigaan besar sepsis
– Antibiotik. Antibiotik awal diberikan ampisilin dan gentamisin. Bila organisme tidak dapat ditemukan dan bayi tetap menunjukkan tanda infeksi sesudah 48 jam, ganti ampisilin dan beri sefotaksim, sedangkan gentamisin tetap dilanjutkan.

Pada sepsis nosokomial, pemberian antibiotik disesuaikan dengan pola kuman setempat. Jika disertai dengan meningitis, terapi antibiotik diberikan dengan dosis meningitis selama 14 hari untuk kuman Gram positif dan 21 hari untuk kuman Gram negatif. Lanjutan terapi dilakukan berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas, gejala klinis, dan pemeriksaan laboratorium serial (misalnya CRP).

– Respirasi
Menjaga patensi jalan napas dan pemberian oksigen untuk mencegah hipoksia. Pada kasus tertentu mungkin dibutuhkan ventilator mekanik.

Kardiovaskular
Pasang jalur IV dan beri cairan dengan dosis rumatan serta lakukan pemantauan tekanan darah (bila tersedia fasilitas) dan perfusi jaringan untuk medeteksi dini adanya syok. Pada gangguan perfusi dapat diberikan volume ekspander (NaCl fisiologis, darah atau albumin, tergantukebutuhan) sebanyak 10 ml/kgBB dalam waktu setengah jam, dapat diulang 1-2 kali. Jangan lupa untuk melakukan monitor keseimbangan cairan. Pada beberapa keadaan mungkin diperlukan obat-obat inotropik seperti dopamin atau dobutamin.

Hematologi
Transfusi komponen jika diperlukan, atasi kelainan yang mendasari.
– Tunjangan nutrisi adekuat
– Manajemen khusus
– Pengobatan terhadap tanda khusus lain atau penyakit penyerta serta komplikasi yang terjadi (misal: kejang, gangguan metabolik, hematologi, respirasi, gastrointestinal, kardiorespirasi, hiperbilirubin).
– Pada kasus tertentu dibutuhkan imunoterapi dengan pemberian imunoglobulin, antibodi monoklonal atau transfusi tukar (bila fasilitas memungkinkan).
– Transfusi tukar diberikan jika tidak terdapat perbaikan klinis dan laboratorium setelah pemberian antibiotik adekuat.

Bedah
Pada kasus tertentu, seperti hidrosefalus dengan akumulasi progesif dan enterokolitis nekrotikan, diperlukan tindakan bedah.

Lain-lain Rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya, dll). Pengelolaan bersama dengan sub bagian Neurologi anak, Pediatri Sosial, bagian Mata, Bedah Syaraf dan Rehabilitasi anak.

Tumbuh Kembang Komplikasi yang sering terjadi pada penderita dengan sepsis, terutama jika disertai dengan meningitis, adalah gangguan tumbuh kembang berupa gejala sisa neurologis seperti retardasi mental, gangguan penglihatan, kesukaran belajar dan kelainan tingkah. laku.

Langkah Preventif
– Mencegah dan mengobati ibu demam dengan kecurigaan infeksi berat atau infeksi
intrauterin.
– Mencegah dan pengobatan ibu dengan ketuban pecah dini.
– Perawatan antenatal yang baik.
– Mencegah aborsi yang berulang, cacat bawaan.
– Mencegah persalinan prematur.
– Melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman.
– Melakukan resusitas dengan benar.
– Melakukan tindakan pencegahan infeksi : CUCI TANGAN!!
– Melakukan identifikasi awal terhadap faktor resiko sepsis pengelolaan yang efektif.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s